Senin, 07 Desember 2009

pelejar-pelajar kita banyak yang minim nasionalisme

Pelajar semakin tidak hapal urutan dan sila-sila dalam Pancasila. Hal ini menjadi pertanda adanya penurunan wawasan kebangsaan di kalangan pelajar masa kini. Penilaian ini diperoleh melalui sejumlah evaluasi yang dilaksanakan oleh Direktorat Jendral Kesatuan Bangsa dan Politik (Departemen Dalam Negeri) dilansir oleh kompas.com (19 November 2009). Gejala ini terutama terjadi pada pelajar di daerah perkotaan. Penurunan wawasan kebangasaan ini menjadi indikasi penurunan jiwa nasionalisme.
Jika mahasiswa lebih dikenal sebagai agen perubahan sosial karena sejarahnya, maka semestinya pelajar adalah agen pembentukan karakter. Banyak sekolah yang melupakan ini, pembangunan karakter siswa atau pelajar dikalahkan dengan kepentingan mengejar nilai UN yang tinggi. Padahal dengan UN yang dilihat adalah hanya kemampuan kognitif, sejatinya pendidikan akan melahirkan pelajar yang kompeten bukan hanya kemampuan kognitif nya saja melainkan harus kompeten pada kemampuan afektif dan psikomotoriknya.
Empat pilar wawasan kebangsaan; pemahaman pancasila, NKRI, UUD '45, dan keragaman budaya harusnya menjadi ranah yang juga dibina secara konsisten. Miris memang, saya pernah melakukan survei disalah satu SMP swasta di Jakarta. Survei itu untuk mengetahui siswa yang konsisten setiap pagi bangun pagi pukul 04.30 atau pukul 05.00. Hasilnya luar biasa memprihatinkan, dari empat kelas dengan masing-masing kelas terdapat 40 an siswa hanya maksimal hanya 3 siswa dalam tiap kelasnya yang bisa bangun pagi jam 04.30 atau jam 05.00 ditambah lagi karena mereka muslim, mereka menunaikan sholat subuh. Akan tetapi yang lain atau sisanya rata-rata bangun pagi di atas pukul 06.00 ditambah lagi mereka tidak menunaikan sholat subuh. Bagaimana mungkin membangun karakter dan wawasan kebangasaan, pembangunan karater diri siswa juga sulit berdasar survei di atas. Sekolah bukan satu-satunya yang bertanggungjawab atas hal ini. Keluarga, lingkungan masyarakat dan terutama pemerintah harus bertanggung jawab. Pemerintah mestinya mampu menyelenggarakan sistem pendidikan nasional dengan kurikulum yang juga meniktikberatkan pada pembangunan karakter siswa. Jika keadaan di atas berlarut-larut tidak menjadi fokus untuk diperbaiki maka bukan tidak mungkin bangunan ke-Indonesiaan akan rapuh di masa-masa yang akan datang.
Hal ini terbukti sekarang, elit politik kita semakin pragmatis. Banyak peraturan perundang-undangan yang dibuat hanya untuk kepentingan-kepentingan tertentu yang bahkan tidak berpihak pada rakyat.
Belum lagi wajib belajar yang diusung oleh pemerintah dilaksanakan hanya dengan setengah hati. Ada pembiaran kepada mereka yang tidak memiliki kesempatan bersekolah.





Minggu, 06 Desember 2009

"ngeri" prsiden kelihatannya mulai alergi dengan aksi damai

Presiden sudah mulai su'udzon dengan aksi damai yang akan dilaksanakan oleh aktivis-aktivis antikorupsi untuk memperingati hari antikorupsi sedunia. Kekhawatiran dan ketakutan presiden terhadap aksi ini adalah berlebihan. Dan parahnya lagi, nampaknya presiden sudah mulai alergi dengan aksi-aksi damai. Ini "ngeri"! bagaimana tidak! TNI seperti disampaikan oleh KASAD langsung merespon kekhawatiran presiden dengan aksi damai yang akan dilaksanakan Rabu, 9 Desember 2009. Bahwa TNI akan siap membantu Polri untuk mengamankan aksi itu apabila diminta (kompas.com). Terkesan akan ada gelombang massa yang anarkis.
Sejatinya, aksi ini adalah aksi dengan ketulusan hati untuk mengetuk kembali dan bahkan mendukung pemerintah dalam usahanya memberantas korupsi dan memberantas mafia peradilan. Presiden harusnya sadar, bahwa publik sudah muak dengan oknum penegak hukum yang lebih jahat dari iblis. Maka kenapa tidak? semestinya presiden malah mendukung aksi ini. Tidak usah alergi, tidak usah khawatir, atau bahkan takut aksi ini akan anarkis. Bahkan tidak mungkin aksi ini mengusung untuk menggulingkan pemerintahan. Tetapi sebaliknya, kalau presiden justru selalu berkeluh kesah, khawatir, takut? kenapa tidak mundur saja dari pemerintahan, rakyat tidak butuh pemimpin yang seperti ini. Aspirasi rakyat harus didengar, amanat rakyat harus dijalankan. Kalau mau berkeluh kesah ya jadi rakyat saja, jangan jadi presiden.
Ironis memang, dalam program 100 harinya presiden akan memberantas mafia hukum. Ini adalah indikasi bahwa presiden meng-iya-kan bahwa dalam jajaran birokrasi yang dipimpinnya memang ada yang tidak beres. Ada oknum-oknum birokrasi yang tidak jujur. Tetapi kenapa? Presiden malah berlebihan dalam menyikapi aksi damai yang akan digelar sekaligus untuk memperingati hari antikorupsi sedunia. Mestinya, presiden hadir juga dalam aksi itu dan diskusi dengan para aktivis untuk membahas langkah-langkah dan terobosan-terobosan apa yang semestinya dilakukan oleh pemerintah untuk memberangus koruptor dan oknum penegak hukum yang tidak jujur.
Sudahlah pak presiden...! jangan lagi mencari simpati dengan berkeluh kesah, nggak usah lagi mencari belas kasih untuk mendapatkan dukungan, kita dukung bapak presiden sepenuhnya. Asal bapak presiden jujur, tidak lambat, dan cerdas untuk mencri terobosan-terobosan baru. Tidak usah malu-malu belajar dengan tokoh-tokoh negarawan yang lain. Jangan lupa, kita punya stok banyak manusia yang cerdas lagi jujur dari bebagai kalangan, dari berbagai LSM dan sebagainya.
Jika presiden terus-terusan khawatir dengan aksi-aksi damai, jika presiden selalu alergi dengan aksi-aksi damai, maka logika yang muncul adalah logika terbalik. Logika terbalik itu adalah bukan tidak mungkin para aktivis antikorupsi akan takut ada "orangnya" SBY yang merespon kekhawatiran yang berlebihan oleh presiden dengan membuat provokasi dalam aksi ini untuk menimbulkan anarkisme. "Semoga tidak demikian".

Sabtu, 31 Januari 2009

Jangan mengabaikan kearifan lokal

Dua tahun lalu, tepatnya 9 Agustus 2007 bertepatan dengan peringatan hari Masyarakat Adat sedunia sekjen AMAN ( Aliansi Masyarakat Adat Nusantara ); Abdon Nababan mengatakan bahwa masyarakat adat masih termarjinalisasi dan belum mendapatkan pengakuan. Padahal, pengakuan terhadap masyarakat adat dinilai akan dapat menekan konflik.
Pernyataan ini sangat beralasan, masyarakat adat sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kerukunan, kebersamaan, kejujuran, gotong-royong, kekeluargaan, dan keadilan.
Lebih lanjut Abdon mengatakan, terdapat tiga persoalan besar yang dihadapi oleh masyarakat adat. Pertama, berlangsungnya kolonisasi di wilayah masyarakat adat dan sangat sarat berbagai kepentingan. Kedua, masyarakat adat juga mengalami eksploitasi sumber daya alam, mengingat sumber kekayaan seperti hutan dan bahan tambang berada dalam wilayah tanah adat. Ketiga, masyarakat adat mengalami pemaksaan nilai-nilai. Ada nilai-nilai global yang merampas nilai-nilai mereka. Masyarakat adat, misalnya, dipaksa untuk menyangkal kepercayaan yang dianut sejak lama dan memilih satu dari lima agama yang diakui di Indonesia.
Tidak hanya krisis global di bidang ekonomi yang sedang melanda dunia termasuk Indonesia, melainkan krisis identitas yang mengabaikan bahkan mungkin menghilangkan kearifan lokal sedang melanda Republik ini yang kaya raya akan keragaman budaya. Hal ini berpangkal dari pemberlakuan model kebijakan yang kerap mengabaikan hak-hak masyarakat adat, merampas hak ulayat, serta menggerus nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi anutan masyarakat adat.
Sudah saatnya komunitas masyarakat hukum adat berhak menuntut setiap pemerintah daerah masing-masing untuk menetapkan wilayah adat mereka. Sebab, perlindungan negara terhadap entitas masyarakat hukum adat sudah diberikan melalui Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat.
Bangsa ini dibangun di atas pondasi luhur yang menjunjung tinggi nilai-nilai humanis, perbedaan memperkaya keragaman. Tapi apa yang terjadi sekarang? perbedaan melahirkan konflik, perbedaan melahirkan fanatik buta, perbedaan keyakinan melahirkan klaim kebenaran untuk melegalkan kekerasan, MUI pun menjadi lembaga yang terkesan seperti polisi agama, seperti polisi akidah yang selalu mengeluarkan fatwa yang acap kali mengesampingkan kemaslahatan dan hanya memunculkan kontroversi yang justeru rawan karena dapat merontokkan akidah dan moral umat, perbedaan tanpa penghargaan dan penghormatan sehingga kemana kapal berlabel Indonesia ini akan berlabuhpun tidak jelas.
Perbedaan pandangan di antara elit politik yang sedang berkuasa dan elit politik oposisi hanya mempertontonkan sifat kekanak-kanakan. Yang oposisi mengatakan penguasa memperlakukan rakyat "seperti yoyo", kemudian dibalas dengan statemen yang tidak mau kalah yang dulu juga "seperti gasing".
Bagaimana Negara akan mengakomodasi kepentingan-kepentingan masyarakat adat yang menjunjung tinggi kerukunan, penghargaan, dan penghormatan; jika para elit politik yang berlomba-lomba meraih tahta kekuasaan tidak dapat menunjukkan kedewasaan dalam komunikasi politik???
Republik ini hanya dipenuhi wacana dan retorika, memprihatinkan...................
Ini negeri demokrasi, mari hidup berdampingan secara damai......
Siapapun boleh hidup di sini.....

Rabu, 07 Januari 2009

cinta

Dalam keheningan Puncak Sindoro
Dalam terdamparnya jiwa yang ramai menjadi sunyi...
Kutemukan Cinta...
Cinta itu begitu melekat pada sapuan pandangan...
Hinggga tiap sudutnya termakna ketulusan yang membunga jiwa
Begitu cantiknya Cinta itu terlihat, seolah Sahara bagai Surga
Dan begitu selaras bilur Cinta itu terasa, hingga meruah menjadi makna
Wahai Sang pemilik Cinta...
Sungguh Engkau menabur Cinta tiada segan...
Engkau ciptakan gunung yang indah, besar, dan megah ...
Dan kokohnya Sindoro yang memangku kaki langit Jawa
Semua untuk piala piala Cinta...
Hewan yang melata bisa singgah di dalamnya
Manusia, tumbuhan,dan hewan berkumpul menyatu
Semua merasakan tebaran cinta Mu
Sampailah pada sudut relung hati ini
Pemilik piala cinta yang telah usang
yang rapuh memaknai cinta dan Karunia
Wahai Pemilik Lautan Cinta...
Jadikan jiwa dan hati ini tunduk dan patuh pada kebesaran cintamu
Yang kan menjadikan piala cinta ini kemilau kembali
Jadikan tatapan puncak sindoro ini menjadi luas
Seluas hati ini meraih benih akan cinta-Mu.
Dan jadikan bingkai alam ciptaanMu ini
Kelak menjadi bingkai cinta yang Kau persembahkan
Sebagai hadiah cantik dalam hidupku.
Untuk Mu Allah..., Ku meminang CintaMu.
Sajada wajhiya lilladziy khalakahu...
Wajahku telah bersujud kepada yang telah menciptakannya
Washawarahu wasaqa sam'ahu wabasharu
Dengan memfungsikan pendengaran dan penglihatannya
Bihawlihi waquwatihi
Dengan kemampuan dan kekuatannya
Fatabaarakallahu ahsanul khaaliqiyna.
Maha Suci Alloh sebaik-baik Pencipta.
(Do'a Sang Kekasih yang telah lama menerima CintaNya...Muhammad SAW)

Selasa, 06 Januari 2009

politik

Kita mungkin pernah menengar ungkapan "jika suatu negeri dipimpin oleh orang yang tidak amanah maka tinggal tunggu kehancuranya". Pemilu legislatif 2009 tinggal sekitar tiga bulan lagi. Masyarakat kita nampaknya tengah dilanda euforia demokrasi yang menurut saya agak berlebihan. Betapa tidak, di beberapa kota banyak sekali kita jumpai stiker, poster, spanduk, dan lain sebagainya yang sejenisnya berisi wajah para calon anggota legislatif dan gambar partai yang mengusungnya, terpampang di berbagai tempat; angkot, pinggir jalan, pohon, tiang listrik dan lain sebagainya.
Agar tidak merusak pemandangan, kenapa tidak ditegaskan saja oleh KPU tempat-tempat mana saja yang diperbolehkan untuk memasang berbagai jenis iklan tersebut. Seandainya ditempatkan di tempat yang memang telah disediakan bukankah akan terlihat lebih rapih, bahkan merangsang masyarakat untuk melihat bahkan membaca sendiri apa isinya?
Namun apa yang terjadi di negeri ini? bukan hanya di kota-kota besar melainkan di pelosok-pelosok desa berbagai bentuk iklan politik bisa kita jumpai dan terpampang di sembarang tempat yang terlihat sangat tidak indah.
Dan kemudian inilah yang membuat saya berfikir, apakah memang ini gambaran negeri ini? atau ini cermin dari para calon pemimpin kita yang tidak rapih dalam berbagai hal? mudah-mudahan tidak!! Tapi apapun itu, ini sangat memprihatinkan....
Ini bukan pendidikan politik, justeru ini pembodohan politik. Bentuk pengabdian kepada rakyat tidak harus menjadi anggota legislatif, tidak harus menjadi presiden, tidak harus menjadi bupati, tidak harus menjadi walikota, tidak harus menjadi gubernur, tidak harus dalam bentuk kekuasaan atau kepemilikan kewenangan. Atau kalaupun harus seperti itu, sebelum menjadi anggota legislatif, sebelum menjadi presiden, sebelum menjadi gubernur, sebelum menjadi walikota, sebelum menjadi bupati dan lain sebagainya, tunjukkanlah bahwa anda memang abdi rakyat dengan berbagai bentuk pengabdian. Dengan begitu, tanpa harus memasang iklan gambar wajah anda, tanpa harus memikirkan kata-kata apa yang harus tertera pada poster anda, kalau memang anda adalah abdi rakyat maka rakyat dipastikan akan memilih anda.
Dalam salah satu episode acara kickandy, pernah menghadirkan salah seorang dokter yang bertempat tinggal di Papua. Tanpa mengenal lelah dia bekerja sesuai profesinya meskipun dengan alat-alat seadanya yang bahkan bukan alat standar dalam dunia kedokteran. Ketulusan hatinya melayani masyarakat bukan hanya membuat dia dikagumi melainkan dipercaya oleh masyarakat. Pada saatnya dia mencalonkan diri menjadi salah satu anggota legislatif, diapun jadi dengan diusung oleh salah satu partai.
Dan ingatkah anda??? terutama yang baragama islam, kisah Nabi Muhammad; Suatu ketika masyarakat kota Mekkah mengadakan semacam sayembara, siapa yang sholat malam yang pertama kali maka ialah yang akan memasangkan hajar aswad. Dan Muhammadlah yang seharusnya berhak untuk memasangkan hajar aswad tersebut. Tapi kemudian apa yang dilakukannya? Agar tidak terjadi kesenjangan, Nabi meminta kepada para kepala suku atau kabilah yang pada waktu itu ada di sana untuk bersama-sama mengangkat hajar aswad untuk dipasangkan di tempatnya semula. Tanpa diminta, Nabi mendapatkan gelar Al-Amin (yang terpercaya). Demikianlah pengabdian, tidak dibuat-buat, tidak dimanipulasi dan tidak dengan keterpaksaan. Semua dilakukan dengan ketulusan, keikhlasan dan proporsional. Tanpa harus diminta dengan sendirinya masyarakat akan percaya.
Satu hal lagi, saya sangat ingin tahu. Terutama yang beragama islam tentunya, seberapa kuatkah keteguhan hati para politisi kita? tanpa bermaksud mencampuri urusan pribadi anda dengan Tuhan, sebagai politisi dan sebagai hamba Tuhan juga tentunya..seberapa maksimalkah anda menjalankan kewajiban sholat? paling tidak, apakah lima waktu sholat sudah dijalankan secara lengkap? bukan bermaksud su'udzon, masalahnya jikalau anda tidak mampu menjalankan amanat Tuhan maka bagaimana mungkin anda akan bisa menjalankan amanat rakyat dengan baik???
Tulisan ini dibuat bukan bermaksud apapun, ini hanyalah keresahan hati yang sudah hampir hilang kepercayaan terhadap partai politik dari saya yang juga sebagai warga negara yang mengharapkan kebijakan dan kearifan serta kejujuran dari para calon pemimpin bangsa....

Minggu, 04 Januari 2009

Memang begini, Memang begitu

Suatu ketika saya sedang ngobrol santai dengan teman di pelataran kampus. Pada saat itu kita sedang ngobrol lepas sambil nungguin teman saya yang satu lagi. Ya...pada saat itu kita sedang janjian ketemuan di kampus dan rencananya mau kondangan ke pernikahan teman sekelas. Kira-kira jam 15.38 teman saya datang dengan sepeda motornya yang agak buluk karena sepertinya jarang dicuci itu motor, begitu sampai...dengan santainya dia mengatakan "sialan giliran saya nyampai koq malah hujan"...tanpa berpikir panjang saya langsung nyeletuk, "lho siapa yang lo bilang sialan?" hujanya, atau malah yang bikin hujan? Teman saya agak tersentak, terus dia bilang..emank kenapa?? Karena kalo dua-duanya yang lo maksud, dua-duanya lo salah besar..kalau yang lo bilang sialan adalah yang bikin hujan, sungguh lo sudah sangat kurang ajar terhadap Tuhan lo...kalau yang lo bilang sialan hujan, lo juga masih salah besar, karena kenapa hujan disalahkan? toh hujan itu berkah koq...?
Begitulah....betapa pentingnya kesantunan dalam bertutur kata, betapa tidak? terkadang kita tidak pernah mengedit apa yang mau kita katakan kepada siapapun. dengan teman kita mungkin sering mengatakan sialan, anjing, anjrit, dan lain-lain yang memang sesungguhnya tutur kata itu samasekali tidak sopan. Salah-salah malah kita kebablasan seperti teman saya, seperti perkataan di atas, teman saya bilang "sialan...!! giliran saya nyampai koq malah hujan..." kalau yang dibilang sialan hujan, saya yakin kita tidak sepenuhnya setuju..karena hujan itu berkah lho, Nah...lebih ngeri lagi kalau yang dibilang sialan adalah yang bikin hujan, bisa saya pastikan kita sangat tidak setuju...
Oleh karena itu, siapapun yang baca tulisan ini, meskipun kita tidak bisa menggunakan bahasa indonesia dengan baik dan benar, minimal marilah kita menjaga kesantunan dalam bertutur kata...!
Ini penting!! karena agaknya kita ini sedang mengalami pergeseran budaya, baik budaya bertutur kata, budaya bertingkah laku, dan lain-lain. Masyarakat seringkali latah, kata-kata atau perkataan apapun yang sedang "ngetren" maka kata-kata itulah yang sering dipakai. Atau itngkah laku atau gaya apa yng sedang "ngetren" maka tingkah laku atau gaya itulah yang ditiru.

Jika begini, tidak selalu harus begitu...
Hidup memang begini dan begitu...
Tapi tidak selalu begini dan tidak selalu begitu....

Minggu, 28 Desember 2008

Seminar Proposal

PENGGUNAAN MIND MAPING

UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BERPRESTASI

SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Seminar Proposal Skripsi



Disusun oleh :

Muhammad Zamakhsyarie Dhofier

103017027242

JURUSAN PENDIDKAN MATEMATIKA

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2008




BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Dalam sebuah Kegiatan Belajar Mengajar, pengajar atau guru adalah salah satu komponen penting yang menentukan keberhasilan siswa. Guru memiliki peranan yang sangat vital dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar di kelas. Pengelolaan kelas yang efektif dan efisien adalah salah satu tugas seorang guru dalam setiap Kegiatan Belajar Mengajar di kelas.

Penelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan kodisi optimal dan mengembalikanya bila terjadi gangguan dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar. Penerapan metode belajar yang baik merupakan salaj satu unsur pengelolaan kelas yang berkaitan langsung dengan cara belajar dan kreatifitas siswa dalam memecahkan masalah.

Dalam hal kegiatan belajar, otak adalah komponen utama dalam pengembangan kreatifitas. Metode belajar yang baik adalah metode belajar yang mampu memberikan stimulasi positif terhadap otak dari peserta didik. Dengan kata lain, metode belajar yang diterapkan oleh guru diharapkan mampu membangkitkan motivasi diri dari setiap siswa.

Profesor R. Ornstein, pengarang The Psychology of consciousness mengatakan bahwa otak mengatur semua fungsi tubuh; otak mengendalikan perilaku kita yang paling primitif- makan, tidur, menjaga agar tubuh tetap hangat; otak juga bertanggung jawab untuk kegiatan yang paling canggih- penciptaan peradaban, musik, seni, ilmu, dan bahasa. Harapan, pikiran, emosi dan kepribadian semuanya tersimpan di suatu tempat di sana.

Pada tahun 1950-an dan 1960-an, Profesor Roger Sperry dan timnya melakukan beberapa percobaan yang luar biasa pada korteks serebral, bersamaan dengan Profesor R. Ornstein. Mereka meminta para mahasiswa untuk melakukan berbagai tugas mental seperti melamun, menghitung, membaca, menggambar, berbicara, menulis, memberi warna berbagai bentuk, dan mendengarkan musik, sementara mereka mengukur gelombang otak mereka. Mereka mengamati bahwa, pada umumnya korteks serebral membagi tugas kedalam dua kategori utama : tugas otak kiri dan tugas otak kanan. Tugas otak kanan antara lain irama, kesadaran ruang, imajinasi, melamun, warna, dimensi, dan tugas-tugas yang membutuhkan kesadaran holistik atau gambaran keseluruhan. Tugas-tugas otak kiri termasuk kata-kata, logika, angka, urutan, daftar, dan analisis.[1]

Kajian lanjutan mengungkapkan bahwa kekuatan dan kelemahan yang berkelanjutan dari keterampilan kortikal pada setiap orang lebih merupakan fungsi kebiasaan daripada desain dasar otak. Bila seseorang yang memiliki kelemahan pada area tertentu dilatih oleh pakar,keterampilan dan kekuatan mereka pada area tersebut akan meningkat, dan hebatnya lagi, kinerja mereka di area-area lain ikut menguat. Misalnya, jika seseorang yang lemah dalam keterampilan menggambar dilatih menggambar dan melukis, maka kinerja akademisnya akan meningkat secara keseluruhan, terutama pada bidang-bidang seperti geometri di mana persepsi dan imajinasi berperan penting.[2]

Akhirnya, dalam upaya menuju ke arah tujuan penelitian ini, untuk menumbuhkan motivasi berprestasi siswa dalam pembelajaran matematika, maka penulis mencoba untuk menggunakan penelitian tindakan kelas dengan judul penelitian “Penggunaan Mind Map Untuk Meningkatkan Motivasi Berprestasi Siswa Dalam Pembelajaran Matematika”.

  1. Identifikasi Area dan Fokus Penelitian

Dari latar belakang yang dikemukakan maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut :

    1. Faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan rendahnya motivasi berprestasi pembelajaran matematika siswa ?
    2. Upaya apakah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi berprestasi pembelajaran matematika siswa ?
    3. Apakah penggunaan metode Mind Map dapat meningkatkan motivasi berprestasi pembelajaran matematika siswa ?
    4. Kendala apa saja yang mungkin dihadapi dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan metode Mind Map ?

Fokus penelitian ini adalah meningkatkan motivasi berprestasi pembelajaran matematika siswa dengan menggunakan metode Mind Map.

  1. Pembatasan Fokus Penelitian

1. Motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu. Dalam hal ini motivasi yang dimaksud adalah motivasi berprestasi pembelajaran matematika yaitu suatu usaha untuk mencapai sukses yang bertujuan untuk berhasil dalam kompetensi dengan suatu ukuran keunggulan, dan usaha ini merupakan suatu energi yang menggerakkan siswa untuk meningkatkan prestasi dalam pembelajaran matematika.

2. Motivasi berprestasi yang dimaksud adalah motivasi berprestasi pembelajaran matematika siswa setelah diberi perlakuan dengan menggunakan metode Mind Map.

3. Metode Mind Map yang dimaksud adalah alat berpikir kreatif yang mencerminkan cara kerja alami otak. Mind Map memungkinkan otak menggunakan semua gambar dan asosiasinya dalam pola radial dan jaringan sebagaimana otak dirancang.[3]

4. Materi yang disajikan adalah pokok bahasan Lingkaran

  1. Perumusan Masalah

Berdasarkan masalah yangtelah dibatasi sebagaimana di atas, maka perumusan masalah yang diajukan adalah sebagai berikut : “Apakah dengan penggunaan metode Mind Map dapat meningkatkan motivasi berprestasi matematika siswa di SMP X ?”. Berdasarkan perumusan masalah tersebut, dapat dirinci sebagai berikut :

1. Bagaimana aktivitas siswa dengan menggunakan metode Mind Map ?

2. Bagaimana respon siswa dengan penggunaan metode Mind Map ?

3. Bagaimana pelaksanaan Mind Map dalam pembelajaran matematika ?

4. Bagaimana hasil pembelajaran matematika siswa dengan penggunaan metode Mind Map ?

  1. Tujuan dan Kegunaan Hasil Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menelaah motivasi berprestasi pembelajaran matematika siswa dengan menggunakan metode Mind Map dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika dan dapat menjadi siswa yang aktif dan kreatif untuk menghadapi tantangan yang ada.

2. Kegunaan Hasil Penelitian

Secara umum hasil yang diperoleh dari penelitian diharapkan dapat dijadikan bahan masukan bagi program pendidikan matematika dan juga dapat memberikan tambahan wawasan yang berkaitan dengan penggunaan metode Mind Map.

Pertama, secara teoritis diharapkan dapat menambah wawasan khazanah ilmu pengetahuan tentang pengembangan pendekatan pembelajaran matematika di sekolah.

Kedua, secara praktis hasil penelitian ini akan menjadi sebuah alternatif solusi bagi para guru mata pelajaran matematika sebagai bahan acuan dan pertimbangan dalam menggunakan metode pengajaran serta dapat lebih bijak dan arif dalam memilih metode pengajaran yang tepat dan efektif sehingga siswa menjadi aktif, kreatif, dan menjadi harapan sumber daya manusia yang berdaya guna dan mampu menghadapi tantangan yang ada.

BAB II

KAJIAN TEORITIK

  1. Acuan Teori Area dan Fokus yang Diteliti

1. Hakikat Pembelajaran Matematika

a. Pengetian Pembelajaran

Menurut Bruner pemebelajaran termasuk teori preskriptif yaitu menetapkan metode pembelajaran secara optimal yang menaruh perhatian pada bagaimana seseorang mempengaruhi orang lain agar terjadi proses belajar.[4]

Secara garis besar kita dapat menggunakan langkah-langkah pembelajaran yang dikemukakan oleh Suciati dan Prasetya Irawan (2001), yaitu :[5]

1) Menurut Piaget, langkah-langkah dalam pembelajaran yaitu menetukan tujuan pembelajaran, memilih materi pelajaran, menentukan topik-topik yang dapat dipelajari siswa secara aktif, menentukan kegiatan belajar yang sesuai untuk topik-topik tersebut, dan mengembangkan metode pembelajaran untuk merangsang kreatifitas dan cara berfikir siswa, serta meakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.

2) Menurut Bruner, langkah-langkah dalam pembelajaran yaitu menetukan tujuan pembelajaran, melkukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan sebagainya), memilih materi pelajaran, menentukan topik-topik yang dipelajari siswa secara induktif, mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya, dan mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang kongkrit ke abstrak atau dari yahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik, serta melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.

3) Menurut Ausubel, langkah-langkah dalam pembelajaran yaitu menentuan tujuan pembelajaran, melakukan identifikasi karakteristik siswa, memilih materi pelajaran sesuai dengan karakteristik siswa dan mengaturnya dalam bentuk-bentuk konsep inti, menentukan topik-topik dan menmpilkannya dalam bentuk advance organizer yang akan dipelajari siswa, dan mempelajari konsep-konsep inti tersebut yang diterapkan dalam bentuk nyata/konkrit, serta melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.

Dari ketiga pendapat di atas, bahwa langkah-langkah dalam pembelajaran diantaranya adalah menetukan tujuan pembelajaran, melakukan identifikasi karakteristik siswa, memilih materi pelajaran, menentukan topik-topik yang dapat dipelajari siswa secara aktif dan induktif, dan mengembangkan baik dari metode pembelajaranya maupun bahan-bahan belajar siswa, serta melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.

b. Pengertian Matematika

Beberapa definisi atau ungkapan pengertian matematika hanyan dikemukakan terutama berfokus pada tinjauan pembuat definisi itu. Ada tokoh yang sangat tertarik dengan berperilaku bilangan, ia melihat matematika dari sudut pandang bilangan itu. Tokoh lain lebih mencurahkan perhatian kepada stuktur-struktur, ia melihat matematika dari sudut pandang struktur-struktur itu. Demikian sehingga banyak muncul definisi atau penertian tentang matematika yang beraneka ragam. Atau dengan kata lain tidak terdapat satu definisi tantang matematika yang tunggal dan disepakati oleh semua tokoh atau pakar matematika.[6]

1. Hakikat Motivasi Berprestasi

a. Pengertian Motivasi

Motivasi berasal dari kata “motif” yang artinya sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian tersebut, motivasi mengandung tiga elemen penting, yaitu :[7]

1) Motivasi mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia

2) Motivasi ditandaidengan munculnya rasa “feeling” afeksi seseorang. Dalam hal ini motivasi relevan dengan persoaln-persoalan kejiwaan, afeksi dan emosi yang dapat menentukan manusia

3) Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respon dari suatu aksi, yakni tujuan. Motivasi memang muncul dari dalam diri manusia, tetapi kemunculanya karena terangsang/terdorong oleh adanya unsur lain, dalam hal ini adalah tujuan. Tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan.

b. Pengertian Prestasi

Prestasi merupakan suatu gambaran dari penguasaan kemampuan para peserta didik sebagaimana telah ditetapkan untuk suatu pelajaran tertentu. Setiap usaha yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran baik oleh guru sebagai pengajar, maupun oleh peserta didik sebagai pelajar bertujuan untuk mencapai prestasi yang setinggi-tingginya.[8]

Mengapa ada orang-orang yang mempunyai energi yang begitu besar untuk meraih sesuatu ? mengapa ada orang yang sangat ingin berprestasi ? terlepas dari apa motivasi seseorang itu meraih prestasi, salah satu faktor yang menyebabkan seseorang terus gigih meraih prestasi adalah kemampuanya untuk memompakan semangat untuk berprestasi. Itu kenapa banyak pakar perilaku berpendapat bahwa keberhasilan adalah sikap. Dan orang yang sukses adalah orang yang berani menempuh segala ujian. Mereka belajar dari kegagalan.[9]

Suatu ciri dari kebutuhan prestasi adalah kebutuhan yang dapat dipelajari. Di mana seseorang yang pada mulanya memiliki presrasi rendah, kemudian mendapat pelatihan dan pengalaman dapat menaikkan prestasi.[10]

Dari penjelasan mengenai prestasi seperti tesebut di atas,kita dapat mengetahui bahwa motivasi berprestasi merupakan suatu dorongan yang timbul dari dalam diri seseorang untuk mengasilkan sesuatu yang lebih baik ari sebelumnya.

2. Hakikat Mind Map

Menurut Tony Bozan, dalam bukunya ia mengatakan bahwa Mind Map adalah alat berpikir kreatif yang mencerminkan cara kerja alami otak. Mind Map memungkinkan otak menggunakan semua gambar dan asosiasinya dalam pola radial dan jaringan sebagaimana otak dirancang.

Michael Michalko; “Mind Map adalah alternatif pemikiran keseluruhan otak terhadap pemikiran linier. Mind Map menggapai ke segala arah dan menangkap berbagai pikiran dari berbagai sudut.

Secara harafiah Mind Map akan memetakan pikiran-pikiran kita sehingga disebut juga sebagai alat berpikir organisasional.[11]

Mind Map menggunakan warna, memiliki sruktur alami yang memancar dari pusat. Semuanya menggnakan garis lengkung, simbol, kata, dan gambar yang sesuai dengan satu rangkaian aturan yang sederhana, mendasar, alami, dan sesuai dengan cara kerja otak. Dengan Mind Map daftar informasi yang panjang bisa dialihkan menjadi diagram warna-warni, sangat teratur, dan mudah diingat yang bekerja selaras dengan cara kerja alami otak dalam melakukan beberapa hal.[12]

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

  1. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP X kelas VIII

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan dimulai dari Januari s.d Maret 2009

  1. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah penelitian tindakan (Action Research) yang dilakukan di kelas dengan tujuan memperbaiki atau meningkatkan mutu praktik pembelajaran.[13] PTK berfokus pada kelas atau pada proses belajar mengajar yang terjadi di kelas, bukan pada input kelas (silabus, materi dan lain-lain) ataupun output (hasil belajar). PTK harus tertuju atau mengenai hal-hal yang terjadi di dalam kelas. Metode penelitian tindakan kelas ini dilakukan pada pembelajaran matematika dengan menggunakan metode Mind Map guna meningkatkan motivasi berprestasi dalam pembelajaran matematika siswa dengan pokok bahasan Lingkaran.

  1. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII A SMP X tahun pelajaran 2008/2009.

  1. Teknik Pengumpulan Data

1. Data dan Sumber Data

Data dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif, yaitu hasil obsevasi proses pembelajaran, catatan lapangan, hasil wawancara terhadap guru dan siswa, hasil angket persepsi siswa terhadap pembelajaran menggunakan Mind Map, hasil jurnal harian siswa, dan hasil dokumentasi (berupa foto kegiatan pembelajaran). Data kuantitatif, yaitu nilai tes akhir siklus dan nilai ulangan harian siswa.

Sedangkan sumber data pada penelitian ini adalah siswa, guru, dan peneliti.

2. Instrumen-Instrumen Pengumpul Data yang Digunakan

Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini terdiri atas dua jenis, yaitu :

a. Instrumen Tes

Untuk tes digunakan tes formatif, yaitu tes yang dilaksanakan pada setiap akhir pembelajaran di setiap sisklus. Dan tes subsumatif yang diberikan pada akhir pembelajaran, tes ini bertujuan untuk menganalisis peningkatan motivasi berprestasi siswa dalam pembelajaran matematika dan ketuntasan belajar siswa terhadap seluruh materi yang telah diberikan. Tes formatif dan subsumatif ini berupa soal pilihan ganda untuk melihat siswa termotivasi dalam berprestasi di pembelajaran matematika.

b. Instrumen Non Tes

Dalam instrumen non tes ini dgunakan instrumen sebagai berikut :

1) Lembar Observasi

2) Jurnal Harian Siswa

3) Angket

4) Lembar Wawancara

BAB IV

HASIL PENGAMATAN

  1. Deskripsi Hasil Pengamatan
  2. Analisis Data

BAB V

PENUTUP

  1. Kesimpulan
  2. Saran-saran

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Danial Zainal, 7 Formula Individu Cemerlang, Jakarta : PT. Mizan Publika, 2007

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktek), Jakarta : PT. Rineka Cipta, Cet. 13, 2006.

Budiningsih, C. Asri, Belajar dan Pemebelajaran, Jakarta : PT. Rineka Cipta, Cet. I, 2006.

Buzan, Tony, Buku Pintar Mind Map, Jakarta : Pt. Gramedia Pustaka Utama, Cet. VI, 2008.

Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : PT. Rineka Cipta, Cet. III, 2006.



[1] Tony Bozan, BUKU PINTAR MIND MAP, Jakarta : Gramedia, 2005. hlm. 48

[2] Ibid, hlm. 49 s.d 50

[3] Ibid, hlm. 103

[4] DR. C. Asri Budiningsih, Belajar dan Pemebelajaran, (Jakarta:PT.Rineka Cipta,2006),Cet.I,hlm.11

[5] Ibid, hlm. 49 s.d 50

[6] R. Soedjadi. Kiat Pendidian Matematika Di Indonesia. (Jakarta : Depdiknas, 2000), hlm.11

[7] Sadirman, A.M, Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar ( Jakarta : PT. Grasindo Pusada, 2006),h. 73 s.d 74

[8] Betha Nurina Sari, Sistem Pembelajaran KBK terhadap Motivasi Belajar Para Peserta Didik Pada Bidang Studi Fisika” dalam artikel pendidikan dalam http:/re-searchengines.com/art05-57.html, 5-11-07, pukul 17.46

[9] DR. Danial Zainal Abidin, 7 Formula Individu Cemerlang, (Jakarta : PT. Mizan Publika, 2007), Cet.I hlm. 217

[10] Martinis Yamin, Op. Cit., hlm. 84

[11] Tony Bozan, Buku Pintar Mind Map, Jakarta : Gramedia, 2005. hlm. 48

[12] Ibid. Hlm 5

[13] Prof. Suharsimi, dkk, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2006), h. 48