Sunday, May 20, 2018

Peran Ibu Dalam Mendampingi Anak Agar ‘Melek’ Literasi Gawai


Saat ini, teknologi informasi seolah menjadi panglima baru dalam mengawal peradaban paling mutakhir. Peradaban di mana ruang dan waktu tak lagi menjadi penghalang orang untuk saling berkomunikasi baik sekadar untuk saling menyapa maupun untuk bertukar pikiran mengenai ide-ide yang lebih bermakna.

Data dari Kementerian Kominfo, tahun ini lebih dari 200 juta penduduk adalah pengguna internet. Peningkatan yang cukup tajam bila dibandingkan dengan tiga tahun lalu yang hanya berjumlah 63 juta orang pengguna layanan internet.

Sementara itu, laporan Tetra Pak Index 2017 yang belum lama ini dirilis, mengungkap bahwa tercatat ada lebih dari 106 juta orang Indonesia berjejaring sosial tiap bulannya. Di mana 85% di antaranya mengakses media sosial melalui perangkat seluler.

Dalam rilis tersebut juga diungkapkan bahwa pengguna media sosial didominasi oleh generasi milenials. “Ada kecenderungan ’menggilai’ media sosial anak muda sekarang”, ujar Gabrielle Anggriani, Communications Manager Tetra Pak Indonesia, dalam keterangannya.

Media sosial menjadi teman baru bagi anak-anak muda yang juga pelajar. Informasi yang meluap sedemikian deras tak semua berupa kebenaran. Dalam peradaban media sosial, lebih banyak orang iseng ketimbang yang benar-benar memikirkan perubahan ke arah yang makin baik, demikian kata Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya.

Diperlukan kemampuan memilah dan memilih informasi yang begitu banyaknya di media sosial. Sudah kita saksikan informasi yang bersifat hoax sangat merajai di jagat virtual. Oleh karena itu, literasi gawai mendesak untuk digaungkan supaya pelajar-pelajar kita tidak terpapar berita hoax.

Dalam hal ini, rumah semestinya menjadi benteng utama yang diharapkan mampu menyaring arus informasi yang masuk ke dalam ruang-ruang privasi anak. Ibu menjadi sosok yang diharapkan senantiasa dekat dan mendampingi anak ketika mereka akrab dengan gadgetnya.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, mengatakan ibu mempunyai peranan vital dalam konteks digital atau konteks konten. “kenapa ibu menjadi penting dalam konteks digital, dalam konteks konten? Karena di rumah, ibulah yang paling banyak berinteraksi dengan anak-anak kita”, katanya dalam Diskusi Publik Peringatan Hari Ibu 2017 di Ruang Serbaguna Kementerian Kominfo, Jakarta, Sabtu (16/12/2017).

Usaha orangtua untuk membendung derasnya arus zaman yang digawangi oleh kemajuan teknologi informasi adalah tidak gampang kalau tidak mau dikatakan sia-sia. Kasih sayang orangtua sebaiknya tidak semata dalam bentuk pemberian yang bersifat kebutuhan fisik. Perkembangan nalar anak juga perlu mendapatkan perhatian. Termasuk dalam hal kesadaran pentingnya literasi digital.

Masih dalam catatan Prof. Rhenald, menurutnya, untuk pertama kali dalam sejarah, dunia kerja dan sekolah diisi empat generasi sekaligus, generasi kertas-pensil, generasi komputer, generasi internet dan generasi smartphone. Sedangkan generasi orangtua dulu sekolah dengan sistem linier, antar subyek terspisah. Matematika, Fsisika dan Bahasa terpisah satu sama lain, beda keahlian juga beda guru. Sementara, generasi anak memiliki pemahaman yang integratif. Pelajaran mengusung metode tematik, kesatuan berbagai mata pelajaran dalam satu tema yang sama. Dunia mereka dinamis, bersenang-senangdan multitasking.

Banyak orang paham bahwa anak-anak tengah hidup di peradaban yang samasekali berbeda dengan orangtuanya. Sayangnya, pemahaman itu tidak dibarengi dengan perubahan paradigma yang diwujudkan melalui langkah-langkah baru dalam hal pola asuh anak.

Sangat penting kiranya, pendidikan dan pola asuh dengan jalan yang lebih bersahabat serta menyemangati, bukan pola menghukum dan ambigu yang kerap membikin anak bingung. Adalah orangtua, terutama ibu yang berperan penting dalam memahami dunia anak. Memahamkan mereka akan pentingnya kesantunan di media sosial, membantu mereka menemukan informasi yang benar di jagad maya.


Sunday, April 15, 2018

Agama, pemikiran dan kopi


Siapa bilang Rocky Gerung menista agama. Laiknya Sukma dan Ahok, Rocky tidak sedang menghina Islam. Ketiga tokoh jelas mengutarakan apa yang dialami, dihayati, dan merasuki pikiran dan alam emosinya. 

Fungsi agama bukan untuk memenjara pemikiran, namun sebaliknya, agama justru membebaskan pikiran, memerdekakan akal dan memberi jalan bagi ilmu pengetahuan. Apa yang diucapkan oleh ketiga orang itu adalah wujud dari jalannya pemikiran. Adalah kewajiban kita untuk menghargainya, tak perlu menghakimi atas nama agama.

Jika manusia berperilaku dan berkata-kata tidak sesuai dengan ajaran agama atau malah menentangnya, itu bukan penistaan. Yang demikian itu adalah proses kehidupan yang wajar. Mana ada orang yang berjalan mulus semulus kulit sang putri kerajaan,hehe... dalam menapaki jalanya hidup.

Yang benar adalah konsisten berpikir, bukan konsisten pada hasil pikir. Teguh mempedomani satu produk pemikiran bisa saja menjerumuskan kita pada kesyirikan, menuhankan diri kita sendiri.

Manusia memang sebaiknya jangan pernah diam, berhenti pada satu terminal pemikiran tertentu. Sudah menjadi fitrahnya, otak itu untuk mencipta. Maka, teruslah mengembara dengan akal, tak perlu rehat. Tak perlu takut liar, menyimpang, apalagi salah. Biar kematian saja yang menghentikan otak kita. 

Untuk menjinakkan dan mendamaikan keliaran akal, agamalah sarananya, Tuhanlah sandarannya. Syariat agama hadir bukan untuk memenggal jalannya pemikiran. Syariat diwahyukan agar akal tak telanjang, supaya akal senantiasa diliputi oleh akhlak, moral yang luhur. 

Apa enaknya, ngopi bareng dengan kawan mendiskusikan hasil pemikiran, di kedai kopi yang berbeda, lalu diskusinya lewat email atau telpon. Aiiiih....garing banget. Bukankah perjumpaan akan lebih menghangatkan, juga meredam ego pikiran. Belum lagi disusuri aroma kopi yang menenangkan. 

Agama bukanlah kedai kopi, syariat juga bukan secangkir kopi, yang ingin saya katakan adalah agama mempertemukan akal dengan penciptanya. Syariat agama adalah sarana untuk kita menghayati dan menyelami nikmatnya perjumpaan dengan Tuhan. Lalu apa setelah kita bertemu Tuhan, akal akan semakin waras, moral terjaga. Perilaku nampak menawan, kata-kata yang keluar dari kita akan melantun dengan bahasa yang indah.

Jika untuk membela Tuhan lalu tindakan kita justru beringas, menghakimi hasil pemikiran seseorang yang menjelma dalam perilaku dan kata-kata, maka jangan-jangan kita kurang menikmati dalam menjalankan syariat. Kalau setelah menyeruput kopi badan kita jadi sakit, perasaan kita tambah galau, pasti bukan salah kopinya. 

Tak usah terlampau kaku dalam memaknai agama. Bersikap luwes dan lembut bukankah terlihat anggun.

Thursday, April 5, 2018

Antara Curi Motor dan Curi Perhatian



Peristiwa-peristiwa pencurian motor (Curanmor), modus yang dipakai oleh pelaku banyak. Tempat-tempat yang sepi biasa jadi incaran utamanya, misalnya : depan rumah, kos-kosan, tempat belanja, masjid dan lain-lain.

Pelaku pencurian motor yang satu ini, tergolong unik. Ia mengecoh warga yang kebetulan sedang berkumpul nonton bareng liga Inggris. Barangkali dipikirannya tempat sepi bukanlah tantangan dalam melakukan aksi. Entahlah. Itu dibenak saya saja. Karena, pelaku yang saya ceritakan ini cukup nekat. Dia mencuri justru di lokasi yang terbilang ramai. 

Ceritanya begini, pencuri ini tanpa beban sembari santai, negeloyor saja lewat di depan warga yang kala itu sedang nobar. Hanya bermodal satu kata “permisi”, si pencuri dibiarkan melenggang tanpa satu pun warga berusaha mengenali wajahnya atau minimal bertanya, “mau ke mana?”. Satu pun tidak ada.

Selang sebentar, dalam hitungan kurang dari lima menit, pemuda yang kemudian dapat label maling dari warga ini melintas dengan motor curiannya, berikut helm yang saat itu diletakkan di motor itu juga. Baru sekejap ia melintas, dari dalam kos-kosan tiga mahasiswa teriak, “maling”, seperti bersahut-sahutan. Sontak, warga yang lagi nonton bola pun kaget dan berusaha mengejar. Apa daya, hukum teknologi berlaku. Kemudahan dan kecepatan itu kan salah satu tujuan teknologi. Kejaran warga tak sebanding dengan kecepatan motor yang yang dikendarai pencuri tadi.

Masyarakat dengan karakter mudah luruh hati itu jamak. Luruh hati tentu tak salah, tetapi luruh hati yang berlebih buktinya berakibat fatal. Warga tidak mau bertanya samasekali, padahal paras si pelaku nyata-nyata tidak familiar.

Rupanya metode mengelabui warga juga kerap dilakukan para politisi. Tentu bukan untuk mencuri motor, tapi mencuri perhatian. Yang mana duluan menggunakan cara itu, pencuri motor atau politisi, saya jelas tidak tahu. 

Menjadi politisi tiba-tiba rajin bersapa-ria kalau ketemu warga, saat momen pilkada akan digelar. Raut mukanya teduh, kata-katanya ditata dan lembut. Layaknya kata “permisi” sang pencuri motor. Apa lagi, didandan begitu rupa, bajunya sesuai tradisi lokal atau yang relijius. 

Politisi yang tidak pandai bercakap dengan tutur yang teratur, terkesan arogan, habislah. Walaupun track recordnya bagus, tak ada ampun. Masyarakat yang gampang dibuai tidak bakalan meneliti lebih jauh. Persis seperti warga yang dilintasi pencuri motor. Tak perlu Tanya mau apa, ke mana. 

Politisi yang hapal karakter masyarakat seperti ini tentu senang, mereka tidak akan banyak bertanya apa programnya, mau ke mana kita dibawa. Cukup meniru cara sang pencuri motor. Lawan yang sudah pengalaman sekalipun, kalau dia tidak pintar menata lisannya, mukanya seperti orang marah, gilas saja. Bila perlu kemas opini bahwa sang lawan tak pantas jadi pemimpin, bumbui dengan dalil agama, viralkan. Bila dirasa belum cukup, sambangi masjid.

Tahun ini, gelaran kontestasi pilkada serentak di 171 daerah akan mengawali tahun politik yang lebih besar lagi, yakni pemilu 2019. Strategi para kontestan diharapkan tidak menggunakan kampanye hitam. Mencuri perhatian pastilah tak seburuk mencuri motor. Hal itu boleh, layaknya mencuri perhatian sang kekasih. Mencuri perhatian disertai niat yang tidak baik, dibarengi dengan menyerang lawan menggunakan SARA terang tak elegan. 

Kesejahteraan masyarakat haruslah jadi tujuan. Keadilan harus ditegakkan setegak-tegaknya, kayak liriknya bang Iwan Fals.









Sunday, April 1, 2018

Aksi Ekstrimis Islam Di Hadapan Rasul


Belakangan ini, aksi saling klaim kebenaran atas nama agama masih terus terjadi. Wajah islam yang humanis, menjunjung nilai-nilai keadaban semakin diuji. 


Tindakan saling menghujat sangat terasa di ruang-ruang digital. Media sosial menjadi sarana untuk meluapkan khotbah-khotbah agama yang dibalut narasi kebencian. Kebenaran dihayati dengan takaran rasa, bukan timbangan nalar. 


Organisasi massa bernuansa islam moderat sebesar NU dan Muhammadiyah tak luput dari sasaran tembak, hujatan, makian dan fitnah kerap dialamatkan kepada para tokoh kedua organisasi itu. 


Sejarah pada dasarnya telah merunutkan pola yang mudah dipahami, ketika kepentingan politik, nafsu berkuasa telah menjadi raja di dalam dada, agama dihunus laiknya pedang sang panglima perang. Pemahaman agama diracik dan diolah atas nama kepentingan semata. Korbannya? Adalah mereka yang awam.


Lalu, dari sana lahirlah sikap ekstrem. Bagi mereka yang hanyut terjerembab pada pemahaman agama yang dangkal, agama wajib dibela walaupun harus memukul saudara seiman. Kebenaran baginya adalah apa yang mereka pahami, selainnya, bila perlu katakan sesat dan kafir.


Dalam bukunya, “Tasawuf Sebagai Kritik Sosial”, KH. Said Aqil Siroj menjelaskan, Sahabat Ali bin Abi Thalib termasuk korban keganasan kelompok ekstrem umat islam. Pada hari Jum’at tanggal 17 Ramadhan tahun 40 Hijriah, khalifah Ali ibn Abi Thalib dibunuh oleh Abdurrahman Ibn Muljam, seorang muslim yang taat beribadah.


Abdurrahman Ibn Muljam masuk dalam komunitas ekstrem yang dikenal dengan paham khawarij, kelompok islam sempalan yang juga sempat menghukumi Ali Ibn Abi Thalib kafir. Pasalnya, sahabat Ali Ibn Abi Thalib dianggap telah melakukan pelanggaran agama yaitu menerima hasil perundingan dengan pihak Mu’awiyah. 


Prinsip “la hukma illallah” (tidak ada hukum kecuali Allah) menjadi alat untuk memvonis kelompok di luar mereka sebagai kafir. Semasa hidupnya, Ali Ibn Abi Thalib pernah mematahkan prinsip yang dianut khawarij itu dengan kata-kata singkat, “Qaul haqq urida bihil bathil” (untaian kata yang benar, namun ditujukan untuk kepentingan yang batil dan tendensius).


Masih menurut KH. Said Aqil Siroj dalam bukunya, rupanya Jauh sebelum peristiwa pembunuhan sahabat Ali Ibn Abi Thalib, Rasulullah SAW sudah memberikan gambaran sebagai prediksi akan munculnya kalangan islam garis keras yang mengamalkan ajaran-ajaran islam tekstualis.


Dikisahkan, pada bulan syawal tahun 8 Hijriyah, kala Nabi SAW baru saja memenangi perang Thaif dan Hunain. Pasca peperangan, ghanimah (harta sitaan perang) dibagikan di Ja’ranah. Sahabat-sahabat Nabi yang senior seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Sa’ad dan lainnya tidak mendapatkan ghanimah, sementara sahabat yang baru masuk islam, seperti Abu Sufyan mendapatkan bagian walaupun ia tergolong kaya.


Tak lama berselang, adalah Dzul Khuwaishirah, seseorang dari keturunan Bani Tamim tampil ke depan dengan congkaknya sambil berkata, “berlaku adillah hai Muhammad!”. Lalu Nabi SAW berkata : “celakalah kamu, siapa yang akan berbuat adil jika aku saja tidak berlaku adil?”. Di belakang Rasul, Umar siap dengan pedangnya berhasrat memenggal leher orang itu. “Wahai Rasulullah, biarkan ku penggal saja lehernya”, kata Sahabat Umar. Nabi menjawab, “biarkan saja”.


Setelah Dzul Khuwaishirah berlalu, Rasulullah SAW bersabda : “akan lahir dari keturunan orang ini kaum yang membaca Al-Qur’an, tetapi tidak sampai melewati batas tenggorokannya (tidak memahami subtansi Al-Qur’an). Mereka keluar dari agama islam seperti anak panah tembus keluar dari (badan) binatang buruannya. Mereka memerangi orang islam dan membiarkan para penyembah berhala. (HR. Muslim pada kitab Az-Zakah, bab Al-Qishmah).


Kelancangan seorang Dzul Khuwaishirah yang menuduh Rasul tidak berlaku adil dan kebiadaban Abdurrahman Ibn Muljam dan kelompoknya yang membunuh Ali Ibn Abi Thalib adalah contoh nyata dari pemahaman islam yang legal-formal, jauh dari pemaknaan subtantif. Padahal, Al-Qur’an tidak pernah melegitimasi sikap ekstrem dan melampaui batas.